Header
Ditulis oleh admin pada 2016-09-10 13:35:58

By: Hanif Ahmad Kautsar Djuenaedy Bi’14

The stereotypical American schoolyard fight pits the jocks against the nerds. The idea of “Brains vs Brawns” gives rise to the idea that the two are irreconcilable. However, studies have shown that these two might be linked after all.

Philip D. Tomporowski et al. (2008) Publish a report reviewing studies on the effects of exercise on the intelligence, cognitionm and academic achievment of children. The review found that there are increases in the social IQ of children who experienced a regular exercise routine however, there is little to no noticeable increase in their performance or overall IQ. This may be due to the fact that the indicator used in these studies measures global IQ which may not be sensitive enough to detect subtle changes in intelligence.

Cognition is the study of the mental process which includes operations of the mind including perception, attention, memory, information processing, and others. Overall, the mental processes of children who exercise regularly increased in speed and accuracy regardless of the intensity of the exercise program. Regular aerobic exercise increases a child’s creativity and originality.

Exercise may improve a child’s cogniition and creativity however, results for its effects on their academic achievements are mixed. Correlational studies seems to indicate an increase in academic achievement in children who undertake regular exercise program but the correlation is weak.

Longitudinal studies found mixed results with some studies finding no difference in academic achievement between children who exercise regularly and those who do not while others found negative correlation. Experimental studies also had the same mixed results.

The increase in cognition function is most likely due to the fact that exercise increases blood flow into the brain which also boosts the oxygen in the brain, giving energy as well as promoting the growth of neurons and the production of neurotransmitters. The lack of academic achievement is not only correlated with brain function but also on the study behavior of the children which varies with each student. Exercise may improve the mental processes of the brain, which will help students understand school material better, but improving academic achievement cannot be reached without effective study habits.

The perennial fight between nerd and jock maybe out if date with more and more studies showing links between an increase in cognition and exercise. The brain can improve with a regular exercise routine. However, if students are to hope to make up for their grades, then they cannot rely solely on daily sprints but must also improve their study habits

 

References:

Tomporowski, P. D., Davis, C. L., Miller, P. H., & Naglieri, J. A. (2008). Exercise and Children’s Intelligence, Cognition, and Academic Achievement. Educ Psychol, 20(2):111-131.

BBC. (2014).  “Brain: Why exercise boosts IQ”. Retrieved from http://www.bbc.com/future/story/20141010-why-exercise-boosts-iq




Ditulis oleh admin pada 2014-06-05 13:09:04

World Environment Day yang berlagsung pada tanggal 5 Juni 2014 kali ini mengangkat tema mengenai SIDS (Small Island Developing States). Pulau-pulau kecil kemungkinan banyak yang memiliki ekosistem yang kaya, biodiversitas serta lansekap unik dan mempesona. Namun, tantangan bagi negara-negara kecil seperti perubahan iklim, pengelolaan limbah, konsumsi yang tidak berkelanjutan, degradasi sumber daya alam, bencana alam yang ekstrem di tengah-tengah overpopulasi serta berkembangnya industrialisasi - merupakan masalah yang dihadapi kita semua.

Perubahan iklim seperti pemanasan global merupakan permasalahan utama yang menyebabkan permukaan laut meningkat. Menurut Panel Internasional Perubahan Iklim (IPCC), permukaan air laut global akan meningkat dan diproyeksikan akan lebih besar abad ini. Ketika hal ini terjadi, maka negara kecil ini kemungkinan lama kelamaan akan terancam hilang.

Namun, pulau-pulau ini beberapa juga telah berhasil dalam mengatasi masalah lingkungan mereka. Sebagai contoh, baru-baru ini Tokelau mulai memproduksi 100 % energi dari sumber surya. Di Barbados juga mulai memaksimalkan solar system. Di Fiji, membuat sistem drainase baru dan seawalls serta warga setempat memulihkan hutan bakau dan terumbu karang untuk membantu mencegah banjir dan erosi. Hal ini adalah bberapa contoh yang dapat diterapkan untuk masalah lingkungan di seluruh dunia.

Mari kita dukung sustainable development, for the better island future! #bioday #WED




Ditulis oleh admin pada 2014-03-15 00:48:16

Isu lingkungan yang kini dihadapi manusia seperti perubahan iklim dan penurunan kualitas udara di atmosfer merupakan sekumpulan efek samping dari pemenuhan kebutuhan manusia (mengesampingkan dinamika alamiah atmosfer bumi) terhadap sumber daya di ekosistem. Deforestasi dan degradasi hutan telah “membelokkan” siklus karbon sehingga akumulasi karbon di atmosfer semakin tinggi karena hutan sebagai penambat karbon telah berkurang. Aktivitas industri dan transportasi juga menyumbang emisi karbon yang cukup besar. Peningkatan gas rumah kaca, salah satunya CO2, meningkatkan suhu rata-rata bumi yang lebih jauh berimplikasi pada perubahan iklim secara global. Fenomena pemanasan global ini diprediksi telah menaikkan suhu rata-rata bumi sampai 4 oC pada tahun 2010. Aktivitas manusia telah meningkatkan jumlah polutan lain di udara yang berakibat pada penurunan kualitas udara. Polutan berupa gas dan partikulat jumlahnya bertambah di udara berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas manusia. Polutan-polutan yang dihasilkan dapat berupa debu atau partikulat, logam berat yang terpapar ke udara, serta gas-gas racun seperti NOx, CO, NH3, H2S, NO, SO2, O3, dan gas yang lainnya.

Lumut

Lumut (Divisio : Bryophytes) merupakan organisme tumbuhan tingkat rendah dengan karakteristika morfologi dan fisiologi yang sederhana. Lumut tidak dilengkapi dengan struktur pembuluh dan tidak memiliki fungsi akar, batang, atau daun yang jelas seperti tumbuhan berpembuluh. Lumut juga bersifat unik, fase hidup dominannya adalah fase gametofit yang secara genetik bersifat haploid. Secara ekologis lumut memiliki penyebaran yang luas dan memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi. Diperkirakan terdapat 10.000 spesies lumut daun (moss) dan 6000 spesies lumut hati (liverworts). Lumut sangat teradaptasi dengan kondisi yang miskin nutrien sehingga sangat cocok sebagai komponen vegetasi tahap awal pada suksesi suatu ekosistem. Karena fisiologi dan morfologinya yang sederhana, lumut sangat spesifik terhadap kondisi mikroklimat, termasuk substrat tempat ia tumbuh. Faktor lingkungan terutama suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap kelimpahan lumut di suatu wilayah karena lumut tidak memiliki struktur kutikula sehingga lumut tidak memiliki mekanisme mempertahankan air dan temperatur dalam jaringannya. Kondisi ini menyebabkan lumut merupakan indikator perubahan iklim yang baik. Lumut juga memiliki kemampuan akumulasi dan tingkat toleransi polutan yang beragam. Kondisi ini menyebabkan lumut merupakan indikator polusi udara yang baik. Secara umum lumut memiliki dua cara hidup yaitu epifit pada batang tumbuhan dan menempel pada substrat selain tumbuhan misalnya batu dan tanah.

Lumut Sebagai Indikator Perubahan Iklim

Karakteristik morfologi lumut yang tidak memiliki kutikula mengakibatkan sensitivitas lumut terhadap perubahan mikroklimat tinggi, terutama suhu dan kelembaban udara. Lumut membutuhkan adaptasi morfologis untuk mengkompensasi fluktuasi harian suhu dan kelembaban udara untuk mempertahankan air dalam tubuhnya, misalnya dengan water sac, water storage cell, dense rhizoid, dan folded leaves. Pada umumnya lumut merupakan organisme poikilohidrik yang metabolismenya bergantung pada ketersediaan air di sekitarnya. Lumut akan tumbuh cepat pada keadaan kelembaban yang tinggi dan akan menurunkan laju pertumbuhannya (dorman) pada kondisi kelembaban yang rendah. Keanekaragaman fungsional dalam menanggapi kondisi mikroklimat yang berubah menjadikan penyebaran lumut sangat luas. Lumut dapat ditemukan dalam semua kondisi iklim di semua ekosistem terestrial dan beberapa ekosistem akuatik.

Perubahan iklim secara global terutama yang berpengaruh terhadap temperatur rata-rata dan kelembaban suatu wilayah akan direspon oleh lumut. Suhu yang meningkat akan meningkatkan evapotranspirasi lumut dan berpengaruh terhadap kelembaban udara di sekitarnya. Semakin tinggi suhu berubah, kadar air di sekitar lumut akan berkurang dan mempengaruhi kelimpahan lumut tersebut. Toleransi beberapa jenis lumut terhadap perubahan iklim tersebut akan berpengaruh terhadap komposisi suatu komunitas lumut. Jenis-jenis yang tidak toleran terhadap perubahan tersebut akan digantikan oleh komponen dari jenis lain yang memiliki toleransi yang lebih tinggi. Kajian korelatif perubahan iklim menggunakan lumut ini salah satunya diperkenalkan oleh Dennis Gignac pada 2001. Artikelnya di jurnal The Bryologist merupakan New Fronties in Bryology and Lichenology.

Liken (lumut kerak), taksa lain yang erat kaitannya dengan lumut seringkali dijadikan parameter kuantifikasi dalam studi mengenai perubahan iklim. Rasio kelimpahan liken dan lumut merupakan salah satu indikator respon terhadap perubahan iklim tersebut. Dalam kondisi alami, forest canopy dan isolated trees memiliki rasio liken : lumut sebesar 2:1, dan  forest understorey memiliki rasio 1:2. Dalam studi Gradstein dkk. (2008) di hutan hujan tropis Amerika Selatan, rasio ini dijadikan sebagai indikator yang kuat untuk perubahan kondisi mikroklimat dan tingkat gangguan manusia. Perubahan komposisi pada dua jenis komunitas ini merefleksikan seberapa besar gangguan manusia terhadap hutan dan seberapa besar kondisi iklim hutan berubah.


Gambar 1. Teknik sampling lumut yang bersifat epifit menggunakan single rope (Gradstein dkk., 2008)

Lumut Sebagai Indikator Pencemaran Udara

Gouindapyani dkk. (2010) melakukan studi dengan menggunakan lumut sebagai parameter Index of atmospheric purity (IAP). Lumut dipilih karena memiliki keanekaragaman bentuk habitat, struktur yang sederhana, kemampuan totipotensi, rapid rate of multiplication yang tinggi, dan kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi. Gametofit dari lumut daun (moss) memiliki kemampuan akumulasi logam berat 5-10 kali lebih tinggi daripada jaringan tumbuhan berpembuluh. Salah satu jenis yang sering dijadikan parameter kuantitatif akumulasi logam berat adalah Atrichum undulatum. Sensitivitas lumut dalam merespon paparan polutan di udara berbeda-beda. Polutan seperti hidrokarbon folatil, logam berat, dan senyawa halogen akan menghambat pembentukan gamet, perkembangan organ reproduksi, dan mereduksi kemampuan fotosintesis dengan mendegradasi senyawa klorofil. Secara umum ada dua jenis respon yang diberikan lumut:

-          Lumut yang sangat sensitif terhadap paparan polutan tertentu akan memberikan gejala visual seperti plasmolisis, klorosis, dan nekrosis. Lumut ini digunakan untuk mengestimasi paparan polutan yang phytotoxic (seperti NH3) dalam kadar yang rendah.

-          Lumut yang memiliki kemampuan akumulasi polutan akan mengumpulkan polutan sehingga kadar polutan dalam jaringan lumut dapat merefleksikan jumlah polutan di udara. Dalam kadar yang di ambang batas, lumut tidak akan ditemukan.



Gambar 2. Beberapa respon (eksperimental) lumut terhadap paparan logam berat (Gouindapyari dkk., 2010)

Dalam monitoring paparan polutan di suatu kawasan menggunakan lumut sebagai indikator, digunakan beberapa metode observasi dan eksperimen. Metode survei merupakan metode klasik yang sederhana untuk melihat paparan polutan suatu wilayah secara mewaktu. Metode ini melihat perubahan komposisi suatu komunitas lumut dan membandingkannya, karena tiap-tiap jenis lumut memiliki kemampuan respon yang berbeda terhadap kadar polutan tertentu. Metode transplantasi secara sederhana mengukur paparan polutan pada waktu tertentu dengan menyimpan medium tumbuh lumut pada lingkungan terpapar kemudian dilihat tingkat kolonialisasi lumutnya. Semakin tercemar medium tumbuh tersebut semakin sulit dikolonialisasi. Metode yang dikenal diantaranya metode soil, moss bag method, dan bryometer. Metode fitososiologi mengukur paparan polutan dalam berbagai tingkat aktivitas manusia. Keberadaan suatu lumut dikorelasikan dengan Index of Atmospheric Purity (IAP) dengan persamaan sebagai berikut:


Gambar 3. Index of Atmospheric Purity (Gouindapyari dkk., 2010)

 Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Dymytrova dkk. (2009) adalah studi untuk melihat tingkat pencemaran udara di Kyiv, Ukraina. Penelitian ini mengukur tutupan dan frekuensi kemunculan jenis lumut pada pohon-pohon pada empat tipe wilayah yaitu Industrial Area, Residential Area, Trees Along The Street, dan Inner Park. Data ini dikorelasikan dengan Index of Atmospheric Purity (IAP) di berbagai titik di seluruh kota.


Gambar 4 Sebaran tingkat pencemaran udara dan distribusi kemunculan lumut di Kyiv (Dymytrova dkk., 2009)

Berdasarkan hasil observasi didapatkan kekayaan jenis dan frekuensi yang ditemukan di Inner Park sangat tinggi jika dibandingkan dengan Industrial Area. Hal ini secara umum menggambarkan area dengan paparan polutan yang tinggi tidak mendukung kolonialisasi dari lumut. Residential Area dan Trees Along The Streets yang mendapatkan paparan yang tidak setinggi di Industrial Area memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi. Fenomena menarik terlihat di Trees Along The Streets yang memiliki paparan polutan partikulat debu yang tinggi. Pada area ini terlihat tumbuhnya spesies seperti Byrum argenteum, Byrum capillare, dan Ceratodon purpureus yang memiliki toleransi dan akumulasi terhadap polutan berupa debu. Spesies ini kelimpahannya lebih rendah di Residential Area yang memiliki paparan debu lebih rendah dibanding Trees Along The Streets.

Kemampuan adaptasi hasil proses evolusi selama 400 juta tahun menghasilkan keanekaragaman fungsional yang tinggi di semua jenis ekosistem. Organisme sederhana yang sensitif ini memiliki peran yang penting dalam ekosistem. Masihkah ada lumut di pohon sekitar rumah Anda?

 

Oleh: Dikdik Permadi, Biologi 2010

 

Sumber:

Dymytrova, L. 2009. Epiphytic lichens and bryophytes as indicators of air pollution in Kyiv city (Ukraine). Folia Cryptog Estonica, Fasc 46 : 33-44

Govindapyari, H., Leleeka, M., Nivedita, M., Uniyal, PL. 2010. Bryophytes. Indicators and monitoring agents of pollution. NeBIO 1(1) 34-41

Gradstein, SR. 2008. Epiphytes of tropical montane forest – impact of deforestation and climate change. The Tropical Mountain Forest. Pattern and Processes in a Biodiversity Hotspot. Gottingen Centre for Biodiversity : Biodiversity and Ecology Series Vol.2

Stefan, MB., Rudolph, ED. 1979. Terrestrial Bryophytes as Indicators of Air Quality in Southeastern Ohio and Adjacent West Virginia.Ohio Journal of Science 79(5): 204-212

Gignac, D. 2001. Bryophytes as indicators of climate change. The Bryologist 104 (3): 410-420

Chantanaorrapint, S. 2010. Ecological studies of epiphytic bryophytes along altitudinal gradiets in Southern Thailand. Dissertation zur Erlangung des Doktorgrandes. Rheinischen-Friedrich-Wilhelms-Universitat Bonn.




Komentar Terbaru
Twitter Feed