Header
Ditulis oleh admin pada 2014-03-15 00:48:16

Isu lingkungan yang kini dihadapi manusia seperti perubahan iklim dan penurunan kualitas udara di atmosfer merupakan sekumpulan efek samping dari pemenuhan kebutuhan manusia (mengesampingkan dinamika alamiah atmosfer bumi) terhadap sumber daya di ekosistem. Deforestasi dan degradasi hutan telah “membelokkan” siklus karbon sehingga akumulasi karbon di atmosfer semakin tinggi karena hutan sebagai penambat karbon telah berkurang. Aktivitas industri dan transportasi juga menyumbang emisi karbon yang cukup besar. Peningkatan gas rumah kaca, salah satunya CO2, meningkatkan suhu rata-rata bumi yang lebih jauh berimplikasi pada perubahan iklim secara global. Fenomena pemanasan global ini diprediksi telah menaikkan suhu rata-rata bumi sampai 4 oC pada tahun 2010. Aktivitas manusia telah meningkatkan jumlah polutan lain di udara yang berakibat pada penurunan kualitas udara. Polutan berupa gas dan partikulat jumlahnya bertambah di udara berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas manusia. Polutan-polutan yang dihasilkan dapat berupa debu atau partikulat, logam berat yang terpapar ke udara, serta gas-gas racun seperti NOx, CO, NH3, H2S, NO, SO2, O3, dan gas yang lainnya.

Lumut

Lumut (Divisio : Bryophytes) merupakan organisme tumbuhan tingkat rendah dengan karakteristika morfologi dan fisiologi yang sederhana. Lumut tidak dilengkapi dengan struktur pembuluh dan tidak memiliki fungsi akar, batang, atau daun yang jelas seperti tumbuhan berpembuluh. Lumut juga bersifat unik, fase hidup dominannya adalah fase gametofit yang secara genetik bersifat haploid. Secara ekologis lumut memiliki penyebaran yang luas dan memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi. Diperkirakan terdapat 10.000 spesies lumut daun (moss) dan 6000 spesies lumut hati (liverworts). Lumut sangat teradaptasi dengan kondisi yang miskin nutrien sehingga sangat cocok sebagai komponen vegetasi tahap awal pada suksesi suatu ekosistem. Karena fisiologi dan morfologinya yang sederhana, lumut sangat spesifik terhadap kondisi mikroklimat, termasuk substrat tempat ia tumbuh. Faktor lingkungan terutama suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap kelimpahan lumut di suatu wilayah karena lumut tidak memiliki struktur kutikula sehingga lumut tidak memiliki mekanisme mempertahankan air dan temperatur dalam jaringannya. Kondisi ini menyebabkan lumut merupakan indikator perubahan iklim yang baik. Lumut juga memiliki kemampuan akumulasi dan tingkat toleransi polutan yang beragam. Kondisi ini menyebabkan lumut merupakan indikator polusi udara yang baik. Secara umum lumut memiliki dua cara hidup yaitu epifit pada batang tumbuhan dan menempel pada substrat selain tumbuhan misalnya batu dan tanah.

Lumut Sebagai Indikator Perubahan Iklim

Karakteristik morfologi lumut yang tidak memiliki kutikula mengakibatkan sensitivitas lumut terhadap perubahan mikroklimat tinggi, terutama suhu dan kelembaban udara. Lumut membutuhkan adaptasi morfologis untuk mengkompensasi fluktuasi harian suhu dan kelembaban udara untuk mempertahankan air dalam tubuhnya, misalnya dengan water sac, water storage cell, dense rhizoid, dan folded leaves. Pada umumnya lumut merupakan organisme poikilohidrik yang metabolismenya bergantung pada ketersediaan air di sekitarnya. Lumut akan tumbuh cepat pada keadaan kelembaban yang tinggi dan akan menurunkan laju pertumbuhannya (dorman) pada kondisi kelembaban yang rendah. Keanekaragaman fungsional dalam menanggapi kondisi mikroklimat yang berubah menjadikan penyebaran lumut sangat luas. Lumut dapat ditemukan dalam semua kondisi iklim di semua ekosistem terestrial dan beberapa ekosistem akuatik.

Perubahan iklim secara global terutama yang berpengaruh terhadap temperatur rata-rata dan kelembaban suatu wilayah akan direspon oleh lumut. Suhu yang meningkat akan meningkatkan evapotranspirasi lumut dan berpengaruh terhadap kelembaban udara di sekitarnya. Semakin tinggi suhu berubah, kadar air di sekitar lumut akan berkurang dan mempengaruhi kelimpahan lumut tersebut. Toleransi beberapa jenis lumut terhadap perubahan iklim tersebut akan berpengaruh terhadap komposisi suatu komunitas lumut. Jenis-jenis yang tidak toleran terhadap perubahan tersebut akan digantikan oleh komponen dari jenis lain yang memiliki toleransi yang lebih tinggi. Kajian korelatif perubahan iklim menggunakan lumut ini salah satunya diperkenalkan oleh Dennis Gignac pada 2001. Artikelnya di jurnal The Bryologist merupakan New Fronties in Bryology and Lichenology.

Liken (lumut kerak), taksa lain yang erat kaitannya dengan lumut seringkali dijadikan parameter kuantifikasi dalam studi mengenai perubahan iklim. Rasio kelimpahan liken dan lumut merupakan salah satu indikator respon terhadap perubahan iklim tersebut. Dalam kondisi alami, forest canopy dan isolated trees memiliki rasio liken : lumut sebesar 2:1, dan  forest understorey memiliki rasio 1:2. Dalam studi Gradstein dkk. (2008) di hutan hujan tropis Amerika Selatan, rasio ini dijadikan sebagai indikator yang kuat untuk perubahan kondisi mikroklimat dan tingkat gangguan manusia. Perubahan komposisi pada dua jenis komunitas ini merefleksikan seberapa besar gangguan manusia terhadap hutan dan seberapa besar kondisi iklim hutan berubah.


Gambar 1. Teknik sampling lumut yang bersifat epifit menggunakan single rope (Gradstein dkk., 2008)

Lumut Sebagai Indikator Pencemaran Udara

Gouindapyani dkk. (2010) melakukan studi dengan menggunakan lumut sebagai parameter Index of atmospheric purity (IAP). Lumut dipilih karena memiliki keanekaragaman bentuk habitat, struktur yang sederhana, kemampuan totipotensi, rapid rate of multiplication yang tinggi, dan kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi. Gametofit dari lumut daun (moss) memiliki kemampuan akumulasi logam berat 5-10 kali lebih tinggi daripada jaringan tumbuhan berpembuluh. Salah satu jenis yang sering dijadikan parameter kuantitatif akumulasi logam berat adalah Atrichum undulatum. Sensitivitas lumut dalam merespon paparan polutan di udara berbeda-beda. Polutan seperti hidrokarbon folatil, logam berat, dan senyawa halogen akan menghambat pembentukan gamet, perkembangan organ reproduksi, dan mereduksi kemampuan fotosintesis dengan mendegradasi senyawa klorofil. Secara umum ada dua jenis respon yang diberikan lumut:

-          Lumut yang sangat sensitif terhadap paparan polutan tertentu akan memberikan gejala visual seperti plasmolisis, klorosis, dan nekrosis. Lumut ini digunakan untuk mengestimasi paparan polutan yang phytotoxic (seperti NH3) dalam kadar yang rendah.

-          Lumut yang memiliki kemampuan akumulasi polutan akan mengumpulkan polutan sehingga kadar polutan dalam jaringan lumut dapat merefleksikan jumlah polutan di udara. Dalam kadar yang di ambang batas, lumut tidak akan ditemukan.



Gambar 2. Beberapa respon (eksperimental) lumut terhadap paparan logam berat (Gouindapyari dkk., 2010)

Dalam monitoring paparan polutan di suatu kawasan menggunakan lumut sebagai indikator, digunakan beberapa metode observasi dan eksperimen. Metode survei merupakan metode klasik yang sederhana untuk melihat paparan polutan suatu wilayah secara mewaktu. Metode ini melihat perubahan komposisi suatu komunitas lumut dan membandingkannya, karena tiap-tiap jenis lumut memiliki kemampuan respon yang berbeda terhadap kadar polutan tertentu. Metode transplantasi secara sederhana mengukur paparan polutan pada waktu tertentu dengan menyimpan medium tumbuh lumut pada lingkungan terpapar kemudian dilihat tingkat kolonialisasi lumutnya. Semakin tercemar medium tumbuh tersebut semakin sulit dikolonialisasi. Metode yang dikenal diantaranya metode soil, moss bag method, dan bryometer. Metode fitososiologi mengukur paparan polutan dalam berbagai tingkat aktivitas manusia. Keberadaan suatu lumut dikorelasikan dengan Index of Atmospheric Purity (IAP) dengan persamaan sebagai berikut:


Gambar 3. Index of Atmospheric Purity (Gouindapyari dkk., 2010)

 Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Dymytrova dkk. (2009) adalah studi untuk melihat tingkat pencemaran udara di Kyiv, Ukraina. Penelitian ini mengukur tutupan dan frekuensi kemunculan jenis lumut pada pohon-pohon pada empat tipe wilayah yaitu Industrial Area, Residential Area, Trees Along The Street, dan Inner Park. Data ini dikorelasikan dengan Index of Atmospheric Purity (IAP) di berbagai titik di seluruh kota.


Gambar 4 Sebaran tingkat pencemaran udara dan distribusi kemunculan lumut di Kyiv (Dymytrova dkk., 2009)

Berdasarkan hasil observasi didapatkan kekayaan jenis dan frekuensi yang ditemukan di Inner Park sangat tinggi jika dibandingkan dengan Industrial Area. Hal ini secara umum menggambarkan area dengan paparan polutan yang tinggi tidak mendukung kolonialisasi dari lumut. Residential Area dan Trees Along The Streets yang mendapatkan paparan yang tidak setinggi di Industrial Area memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi. Fenomena menarik terlihat di Trees Along The Streets yang memiliki paparan polutan partikulat debu yang tinggi. Pada area ini terlihat tumbuhnya spesies seperti Byrum argenteum, Byrum capillare, dan Ceratodon purpureus yang memiliki toleransi dan akumulasi terhadap polutan berupa debu. Spesies ini kelimpahannya lebih rendah di Residential Area yang memiliki paparan debu lebih rendah dibanding Trees Along The Streets.

Kemampuan adaptasi hasil proses evolusi selama 400 juta tahun menghasilkan keanekaragaman fungsional yang tinggi di semua jenis ekosistem. Organisme sederhana yang sensitif ini memiliki peran yang penting dalam ekosistem. Masihkah ada lumut di pohon sekitar rumah Anda?

 

Oleh: Dikdik Permadi, Biologi 2010

 

Sumber:

Dymytrova, L. 2009. Epiphytic lichens and bryophytes as indicators of air pollution in Kyiv city (Ukraine). Folia Cryptog Estonica, Fasc 46 : 33-44

Govindapyari, H., Leleeka, M., Nivedita, M., Uniyal, PL. 2010. Bryophytes. Indicators and monitoring agents of pollution. NeBIO 1(1) 34-41

Gradstein, SR. 2008. Epiphytes of tropical montane forest – impact of deforestation and climate change. The Tropical Mountain Forest. Pattern and Processes in a Biodiversity Hotspot. Gottingen Centre for Biodiversity : Biodiversity and Ecology Series Vol.2

Stefan, MB., Rudolph, ED. 1979. Terrestrial Bryophytes as Indicators of Air Quality in Southeastern Ohio and Adjacent West Virginia.Ohio Journal of Science 79(5): 204-212

Gignac, D. 2001. Bryophytes as indicators of climate change. The Bryologist 104 (3): 410-420

Chantanaorrapint, S. 2010. Ecological studies of epiphytic bryophytes along altitudinal gradiets in Southern Thailand. Dissertation zur Erlangung des Doktorgrandes. Rheinischen-Friedrich-Wilhelms-Universitat Bonn.




Ditulis oleh admin pada 2013-12-26 11:19:08
How To Be A Good Traveler, ini adalah sebuah pedoman singkat bagaimana agar kalian-kalian ini jadi seorang wisatawan yang baik. Wisatawan kan biasanya kalau datang ke suatu tempat wisata, penyakitnya adalah ninggalin sampah atau parahnya lagi bisa ngerusak apa yang ada.
Misalnya nih, niatnya sih mau liat-liat keindahan alam bawah laut, eh tak taunya malah nimbun sampah dan ngerusak koral-koral lucu nan imut di wilayah wisata. Memang kadang tak disengaja sih, tapi ketidaksengajaan itu berasal dari ketidaktahuan.
Nah, dari sinilah, kami membuat tips-tips agar kalian menjadi seorang wisatawan yang baik. Yuk, check this out!

Ditulis oleh admin pada 2013-10-24 08:19:52

Bulan September ini, Divisi Kesenian menjadikan Kota Surakarta sebagai tema Artology-nya. Mungkin belum banyak yang tahu kalau kota ini memiliki banyak sudut yang menarik untuk kita kunjungi. Jika berkunjung ke kota ini, kita akan disuguhi suasana yang sangat kental akan unsur sejarah dan budaya. Hal ini terlihat dari berbagai tempat wisatanya seperti bangunan keraton, kampung batik, dan gedung pertunjukkan seni.


1.  Keraton Kasunanan Surakarta

Keraton Kasunanan Surakarta didirikan pada tahun 1745. Pengunjung dapat melihat berbagai benda bersejarah di dalam bangunan ini seperti kereta kencana, senjata, wayang kulit, dan benda peninggalan zaman dahulu lainnya.Pada sebelah utara dan selatan bangunan ini terdapat alun-alun yang menjadi tempat tinggal Kyai Slamet, kerbau putih yang dikeramatkan sebagai salah satu pusaka keraton.





2. Pura Mangkunegaraan

Pura Mangkunegaran didirikan ada tahun 1757. Istana ini terdiri dari dua bangunan utama yaitu pendopo dan dalem, yang diapit oeh tempat tinggal keluarga raja.Di dalam bangunan ini terdapat gamelan yang disebut Kyai Kanyut Masem, yang masih sering dimainkan pada hari-hari tertentu untuk mengiringi tarian daerah.Selain itu pada hari-hari tertentu juga diadakan pementasan wayang kulit. Beberapa benda bersejarah juga terdapat di sini, seperti lukisan karya Basuki Abdullah, koleksi topeng dari berbagai daerah di Indonesia, kitab kuno zaman Majapahit, perhiasan emas, foto-foto Mangkunegoro, dan kereta yang digunakan untuk acara adat. Pura Mangkunegaran juga memiliki perpustakaan yang disebut Rekso Pustoko.
 




3. Kampung Batik Lawean

Kota Solo memiliki dua kampung batik yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kauman.Pada Kampung Batik yang terletak di daerah Laweyan ini berjejer banyak sekali toko tempat menjual batik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi dengan harga yang bervariasi. Selain berbelanja batik, pengunjung juga dapat melihat secara langsung cara pembuatan batik tulis maupun cap. Selain itu, pengunjung juga disuguhi pemandangan arsitektur bangunan tua yang sebagian besar masih berdiri kokoh di daerah ini. 





4. Pasar Triwindu

Bagi penggemar barang antik, wajib mengunjungi pasar yang satu ini. Pasar Triwindu terletak di dekat Pura Mangkunegaran, Jalan Diponegoro. Berbagai macam barang antik mulai dari topeng, lukisan, perhiasan, tas, keramik, lampu, hingga furniture tersedia di sini. Pasar Triwindu menjadi surga bagi para kolektor barang antik.






5. Taman Sriwedari

Pada Taman Sriwedari terdapat wahana hiburan bagi anak-anak dan juga Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari. Wayang orang yang disajikan sangat kental dengan nuansa tradisional Jawa. Cerita yang disajikan meliputi kisah Mahabarata dan Ramayana, dibalut dengan humor dan tentunya pesan moral. Interior gedung pertunjukan yang bernuansa klasik menambah rasa nyaman untuk menikmati jalannya pertunjukkan. Jika ingin menyaksikan pertunjukan wayang orang secara langsung, pengunjung hanya perlu menyiapkan Rp 3.000,- saja per orang. Pertunjukan diadakan setiap Senin-Sabtu pada pukul 20.00-23.00 WIB.




Kota Solo juga memiliki kekayaan dalam bidang kuliner. Beberapa makanan khas Solo seperti timlo, selad, serabi, dan tengkleng tersedia mulai di berbagai warung makan pinggir jalan sampai restoran besar. Salah satu tempat yang direkomendasikan untuk menikmati semua menu itu adalah Galabo. Galabo adalah singkatan dari Gladag Langen Bogan, sebuah tempat wisata kuliner malam di kota Solo. Gladag Langen Bogan Solo adalah arena kuliner yang hanya dibuka pada malam hari, berlokasi di sebelah timur bundaran Gladag, tepatnya di depan Beteng Trade Center dan Pusat Grosir Solo. Setiap hari, mulai jam 17.00 sampai 24.00, Jl. Mayor Sunaryo ini sengaja ditutup untuk menjadi arena kuliner. Galabo menyediakan menu makanan yang beraneka ragam dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari HIK (Hidangan Istimewa Kampung) sampai hidangan tradisional legendaris seperti timlo, gudek ceker, sate kere, sampe sate tempe gembus.




Selain dikenal dengan keramahan dan sopan santunnya, warga Solo juga dikenal masih memegang erat tradisi-tradisi dari leluhurnya. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya partisipasi warga dalam salah satu acara keraton yang bernama Kirab Kebo Bule. 

Malam satu Suro bagi sebagian masyarakat Jawa masih dianggap sakral. Terlebih jika malam satu Suro tersebut jatuh pada malam Jumat Legi.  Berbagai ritual seperti tapa bisu, kungkum, atau sekedar tirakatan,mengiringi malam satu Suro.Tradisi khas lainnya yaitu Kirab Kebo Bule dan pusaka keraton yang diadakan satu tahun sekali.‘Kebo bule’ atau kerbau albino ini memang binatang peliharaan Keraton Surakarta. Konon nenek moyang kerbau ini merupakan binatang kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono II, sehingga kebo bule ini dikeramatkan, dan menjadi salah satu pusaka paling penting di Keraton Surakarta Hadiningrat. Kirab atau arak-arakan Kebo bule ini  biasanya dimulai pada tengah malam. Tanpa digiring, kerbau akan berjalan sendiri menuju halaman keraton, yang menandakan kirab siap dimulai.  Kebo atau kerbau bule ini sering disebut dengan kebo Kyai Slamet,karena kerbau ini dipercaya sebagai penunggu pusaka Kyai Slamet (salah satu pusaka milik keraton Surakarta yang kasat mata).  Dalam kirab malam satu Suro, Kebo Kyai Slamet selalu berada di barisan paling depan sekaligus bertindak sebagai cucuk lampah kirab. Di belakangnya menyusul barisan para Putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, lampu-lampu keraton maupun obor bambu dengan mengenakan busana Jawa lengkap, kemudian diikuti oleh masyarakat Solo dan sekitarnya yang hendak menyaksikan acara kirab secara langsung.Perjalanan kirab ini kira-kira sepanjang 3 km. Tujuan diadakannya kirab adalah sebagai penolak bala atau musibah.



Oleh: Lucia B. (Biologi 2010)




Ditulis dalam karya | Tag : internal karya | 0 komentar
Komentar Terbaru
Twitter Feed