Bulan September
ini,
Divisi Kesenian menjadikan Kota
Surakarta sebagai tema Artology-nya.
Mungkin belum banyak yang ta
hu
kalau kota ini memiliki banyak sudut yang menarik untuk kita kunjungi. Jika
berkunjung ke kota ini, kita akan disuguhi suasana yang sangat kental akan
unsur sejarah dan budaya. Hal ini terlihat dari berbagai tempat wisatanya
seperti bangunan keraton, kampung batik, dan gedung pertunjukkan seni.


1.  Keraton
Kasunanan Surakarta

Keraton Kasunanan Surakarta didirikan pada tahun 1745. Pengunjung dapat
melihat berbagai benda bersejarah di dalam bangunan ini seperti kereta kencana,
senjata, wayang kulit, dan benda peninggalan zaman dahulu lainnya.
Pada
sebelah utara dan selatan bangunan ini terdapat alun-alun yang menjadi tempat
tinggal Kyai Slamet, kerbau putih yang dikeramatkan sebagai salah satu pusaka
keraton.





2. Pura Mangkunegaraan

Pura Mangkunegaran
didirikan ada tahun 1757. Istana ini terdiri dari dua bangunan utama yaitu
pendopo dan dalem, yang diapit oeh tempat tinggal keluarga raja.Di dalam
bangunan ini terdapat gamelan yang disebut Kyai Kanyut Masem, yang masih sering
dimainkan pada hari-hari tertentu untuk mengiringi tarian daerah.Selain itu
pada hari-hari tertentu juga diadakan pementasan wayang kulit. Beberapa benda
bersejarah juga terdapat di sini, seperti lukisan karya Basuki Abdullah,
koleksi topeng dari berbagai daerah di Indonesia, kitab kuno zaman Majapahit,
perhiasan emas, foto-foto 
Mangkunegoro, dan kereta
yang digunakan untuk acara adat. Pura Mangkunegaran juga memiliki perpustakaan
yang disebut Rekso Pustoko.
 




3. Kampung Batik Lawean

Kota Solo memiliki dua
kampung batik yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kauman.Pada Kampung Batik yang
terletak di daerah Laweyan ini berjejer banyak sekali toko tempat menjual batik
dalam bentuk kain maupun pakaian jadi dengan harga yang bervariasi. Selain
berbelanja batik, pengunjung juga dapat melihat secara langsung cara pembuatan
batik tulis maupun cap. Selain itu, pengunjung juga disuguhi pemandangan
arsitektur bangunan tua yang sebagian besar masih berdiri kokoh di daerah ini. 





4. Pasar
Triwindu

Bagi penggemar barang
antik, wajib mengunjungi pasar yang satu ini. Pasar Triwindu terletak di dekat
Pura Mangkunegaran, Jalan Diponegoro. Berbagai macam barang antik mulai dari
topeng, lukisan, perhiasan, tas, keramik, lampu, hingga
furniture tersedia di sini. Pasar Triwindu menjadi surga bagi para
kolektor barang antik.






5. Taman Sriwedari

Pada
Taman Sriwedari terdapat wahana hiburan bagi anak-anak dan juga Gedung Wayang
Orang (GWO) Sriwedari. Wayang orang yang disajikan sangat kental dengan nuansa
tradisional Jawa. Cerita yang disajikan meliputi kisah Mahabarata dan Ramayana,
dibalut dengan humor dan tentunya pesan moral. Interior gedung pertunjukan yang
bernuansa klasik menambah rasa nyaman untuk menikmati jalannya pertunjukkan.
Jika ingin menyaksikan pertunjukan wayang orang secara langsung, pengunjung
hanya perlu menyiapkan Rp 3.000,- saja per orang. Pertunjukan diadakan setiap
Senin-Sabtu pada pukul 20.00-23.00 WIB.




Kota
Solo juga memiliki kekayaan dalam bidang kuliner. Beberapa makanan khas Solo
seperti timlo, selad, serabi, dan tengkleng tersedia mulai di berbagai warung
makan pinggir jalan sampai restoran besar. Salah satu tempat yang direkomendasikan
untuk menikmati semua menu itu adalah Galabo. 
Galabo adalah singkatan
dari Gladag Langen Bogan, sebuah tempat wisata kuliner malam di kota Solo.
Gladag Langen Bogan Solo adalah arena kuliner yang hanya dibuka pada malam
hari, berlokasi di sebelah timur bundaran Gladag, tepatnya di depan Beteng
Trade Center dan Pusat Grosir Solo. Setiap hari, mulai jam 17.00 sampai 24.00, Jl.
Mayor Sunaryo ini sengaja ditutup untuk menjadi arena kuliner. Galabo
menyediakan menu makanan yang beraneka ragam dengan harga yang sangat
terjangkau, mulai dari HIK (Hidangan Istimewa Kampung) sampai hidangan
tradisional legendaris seperti timlo, gudek ceker, sate kere, sampe sate tempe
gembus.




Selain dikenal dengan keramahan dan
sopan santunnya, warga Solo juga dikenal masih memegang erat tradisi-tradisi
dari leluhurnya. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya partisipasi warga dalam
salah satu acara keraton yang bernama Kirab Kebo Bule. 

Malam satu Suro bagi
sebagian masyarakat Jawa masih dianggap sakral. Terlebih jika malam satu Suro
tersebut jatuh pada malam Jumat Legi.
 
Berbagai ritual seperti tapa bisu, kungkum,
atau sekedar tirakatan,mengiringi malam satu Suro.Tradisi khas lainnya yaitu
Kirab Kebo Bule dan pusaka keraton yang diadakan satu tahun sekali.‘Kebo bule’
atau kerbau albino ini memang binatang peliharaan Keraton Surakarta. Konon
nenek moyang kerbau ini merupakan binatang kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono
II, sehingga kebo bule ini dikeramatkan, dan menjadi salah satu pusaka paling
penting di Keraton Surakarta Hadiningrat. Kirab atau arak-arakan Kebo bule
ini
  biasanya dimulai pada tengah malam. Tanpa
digiring, kerbau akan berjalan sendiri menuju halaman keraton, yang menandakan
kirab siap dimulai.
  Kebo atau kerbau
bule ini sering disebut dengan kebo Kyai Slamet,karena kerbau ini dipercaya
sebagai penunggu pusaka Kyai Slamet (salah satu pusaka milik keraton Surakarta
yang kasat mata).
  Dalam kirab malam satu
Suro, Kebo Kyai Slamet selalu berada di barisan paling depan sekaligus
bertindak sebagai
cucuk
lampah kirab
. Di belakangnya menyusul barisan para Putra Sentana Dalem
(kerabat keraton) yang membawa pusaka, lampu-lampu keraton maupun obor bambu
dengan mengenakan busana Jawa lengkap, kemudian diikuti oleh masyarakat Solo
dan sekitarnya yang hendak menyaksikan acara kirab secara langsung.Perjalanan
kirab ini kira-kira sepanjang 3 km. Tujuan diadakannya kirab adalah sebagai
penolak bala atau musibah.



Oleh: Lucia B. (Biologi 2010)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.